Saat Sosialisasi Disarolangun, Nando Diusir Warga

198
Nando Firdaus membelakangi kamera saat sosialisasi/Ist

JAMBI,- Anak muda atau putra kelahiran Sarolangun 32 tahun silam ini, tak salah jika disebut Calon Legislatif (Caleg) nekat.

Iya, adalah Nando Firdaus Sip, satu diantara Caleg lain-nya yang tengah berjuang ‘menapaki’ kaki menuju Senayan.

Kok dibilang Caleg nekat?  Selain pria ini, terbilang masih muda, Ia pun terbilang ‘miskin’ akan pengalaman dalam dunia diperpolitikan. Dan mengejutkan muncul dan berani tancap gas menuju kursi DPR RI.

Kedua asumsi tersebut seakan menjadi alasan, kenapa Ia disebut caleg nekat. Hal lain yang mungkin cukup menarik, ditengah perjuangan-nya menuju senayan, tak jarang dalam pensosialisasian-nya  sebagai Caleg justru Ia lakukan seorang diri atau dor to dor.

“ Pertanyaan-nya, kenapa harus tua dulu baru ingin berbuat untuk rakyat. Masih muda dan bisa berbuat untuk masyarakat, tentu akan lebih baik bukan. Tidak jadi soal saya dibilang Caleg nekat, toh memang perjuangan ini dirasa cukup berat.

“ Dan memang betul, saya kerap sosialisasi sendiri, atau dor to dor. Soal pilihan silakan tidaik pilih saya, namun soal sosialisasi dalam pencalegan itu keharusan bukan. Kalau saya tidak sosialisasi, tentu tidak ada masyarakat yang tahu saya ambil bagian dalam pesta demokrasi kali ini ,” Kata Nando Firdaus yang mengaku sempat  diusir warga, dalam sosialisasinya di wilayah Sarolangun, beberapa waktu lalu.

Bagaimana ceritanya bisa diusir warga? Menyoroti pertanyaan tersebut, Nando yang maju lewat perahu Perndo ini, justru mengambil hikmah dari pengusiran yang dilakukan warga terhadap dirinya saat sosialisasi baru – baru ini.

“ Memang saya pernah diusir warga saat sosialisasi disalah satu wilayah yang ada di Sarolangun, dan kurang etis rasanya kalau saya sebut lokasi-nya.

“ Pada dasarnya, pengusiran warga terhadap saya, bukan soal saya ambil bagian dalam Caleg DPR RI, namun lebih karena hilang-nya kepercayaan masyarakat terhadap Caleg DPR RI, yang dianggap warga hanya mencari suara belaka, tanpa bisa berbuat sesuatu saat sudah duduk terpilih. Itu setidaknya hikmah yang saya dapat dari pengusiran yang dilakukan warga terhadap saya,” ucapnya panjang lebar.

Pada dasarnya lanjut Nando, suara masyarakat sama sekali tidak bisa ‘di beli’ diera digital ini. Cukup bulat-kan tekad, jika nanti terpilih maka berbuatlah bagi masyarakat Jambi.

” Mungkin salah satunya, akan menembus banyak beasiswa bahasa Inggris melalui lembaga yang  saya kelola saat ini. Dan itu saya lakukan,  demi memajukan dunia pendidikan di Provinsi Jambi,” Tutupnya.(*)

REPORTER : Chatur

 


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here