“Ribut” Soal Tunjangan Hari Raya (THR)..? Teryata Ini Sejarah-nya..!

183
Ilustrasi/Ist

JEJAKJAMBI.COM – Tiap jelang hari Raya Idul Fitri, selain topik pembicaraan akan terfokus arus mudik dan balik, hal lain yang ‘seakan menjadi sakral’ dibicarakan terkait Tunjangan Hari Raya (THR). Pertanyaan-nya sudah terima THR kah Anda hari ini..?

Sedikit lupakan itu, lalu siapa sebenarnya pencentus THR di Indonesia? Dan bagaimana lika liku sejarahnya? Berikut hasil kutipan beberapa artikel hasil penelusuran jejakjambi.com.

Dari beberapa penelusuran, orang yang tak lain pencetus THR tersebut tak lain Perdana Menteri sekaligus Menteri Dalam Negeri Indonesia ke-6, Soekiman Wirjosandjojo, yang dilantik tahun 1951.

Pria yang juga tokoh Masyumi ini, pada mulanya hanya memberikan jatah THR terhadap para pegawai di akhir Ramadan guna mensejahterakan PNS kala itu.

Adapun nominal tunjangan yang diberikan sang perdana menteri saat itu adalah sebesar Rp 125 sampai dengan Rp 200. Jangan anggap nominal tersebut kecil. Ya karena uang segitu sudah setara dengan Rp 1,1 juta sampai Rp 1,75 juta untuk saat ini .

Kabinet sang menteri bahkan tidak hanya memberikan tunjangan berupa uang, tetapi juga beras di setiap bulannya kepada para pegawai. Dan memang hanya pegawai di kabinet yang dipimpin oleh Soekiman lah yang saat itu mendapat tunjangan bulanan maupun tahunan.

Gelombang Protes Pemberian THR
SIAPA sangka THR yang sekarang ditunggu-tunggu dulunya sempat diprotes besar-besaran. Seperti yang disebutkan tadi bahwa hanya di kabinet Menteri Soekiman lah yang memberlakukan bagi-bagi tunjangan. Dan kemudian hal itulah yang membuat masyarakat, khususnya para buruh menentang hal tersebut karena menganggap pemerintah berlaku tidak adil.

Buruh-buruh tersebut juga berdalih bahwa selama ini meski sudah bekerja keras namun nasib mereka tidak berubah. Kemudian protes pemberian THR di kabinet tersebut merembet pada aksi mogoknya para buruh. Belum lagi tudingan yang menyebutkan bahwa soekiman bukan hanya ingin menyejahterakan PNS dengan THR, melainkan juga ada unsur politis di baliknya.

Ada pendapat yang menyebutkan bahwa Soekiman ingin mengambil hati para PNS yang kala itu memang didominasi oleh kalangan ningrat sampai TNI. Namun lama kelamaan sepertinya protes tersebut berbuah manis karena dalam prakteknya saat ini, seluruh pekerja di Indonesia sudah mendapat bagian tunjangannya setiap jelang hari raya.

THR Diatur Undang – Undang
BENAR, jika THR sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Jadi besaran nominal THR yang diterima oleh karyawan memang sudah ditetapkan.

Untuk mereka yang masa kerjanya telah minimal satu tahun maka besaran tunjangan yang akan diterima sebesar satu bulan gaji. Sementara jika masa kerja belum mencapai 12 bulan, maka tunjangan diberikan secara proporsional.

Dalam undang-undang tersebut juga telah dituliskan secara jelas termasuk perhitungan besar tunjangannya. Jadi diharapkan masyarakat tidak serta merta membuat kesimpulan sendiri terkait THR.

Bila memang ada yang masih belum bisa dipahami, kalian bisa langsung mempelajari isi dari undang-undang tersebut. Itung-itung agar semua merasa nyaman dan tidak ada pihak yang dirugikan.

Mungkin banyak diantara kita menganggap istilah ini hal biasa. Padahal ternyata dulunya tidak mudah bagi sosok Soekiman untuk mempertahankan langkah-nya itu.

Dan satu hal lagi ternyata sejarah istilah THR lebih panjang dibanding cara kita menghabiskannya.  Ups,,bagi yang hari ini, sudah mendapat THR jangan kalap, dan bagi yang  belum menerimanya,, yang  sabar ya,, bos. (*)

PENULIS : Chatur

SUMBER :
http://www.esquire.co.id/article/2017/6/4598-Inilah-Asal-Usul-Adanya-Tunjangan-Hari-Raya-THR

https://www.boombastis.com/asal-usul-thr/110345
http://bangka.tribunnews.com/2017/06/20/inilah-sosok-pencetus-thr-pertama-di-indonesia-dan-sejarah-pemberian-thr













LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here