Pengamat Sebut Tak Ada Pesawat Sempurna Sebelum Lepas Landas

56
Posko krisis pesawat Lion Air JT-610 jatuh/Ist

JEJAKJAMBI,- Dalam dunia penerbangan, permasalahan teknis berupa kerusakan atau hal lain bisa saja terjadi justru pada saat lepas landas.

Pengamat penerbangan Gerry Soejatman mengatakan pesawat yang sudah diizinkan terbang oleh engineer yang memiliki wewenang untuk merilis pesawat, bisa berlaku saat posisinya masih di darat.

“Kita di dunia penerbangan sudah mengenal itu. Saat di darat sudah diizinkan dan layak terbang, tapi begitu lepas landas kondisi berubah,” kata Gerry kepada CNNIndonesia.com, Selasa (30/10).

Hal itu, kata dia, bisa juga berlaku pada tragedi jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 rute Jakarta-Pangkalpinang di perairan Karawang, Jawa Barat. 

Menurut Gerry, masih terlalu dini menyimpulkan jika kecelakaan pesawat yang membawa penumpang 189 orang itu akibat lemahnya pengawasan pemerintah ataupun kelalaian pada maskapai Lion Air, atau pabrik pesawat. Kesimpulan adanya pihak yang bersalah bisa diketahui setelah hasil investigasi keluar.

Gerry menjelaskan permasalahan teknis umum terjadi pada seluruh pesawat baik dalam kondisi baru ataupun lama. Tak hanya pesawat, kendaraan lain seperti mobil juga kerap ditemukan permasalahan walaupun baru dikeluarkan dari pabrik. Hanya saja, kerusakan pada mobil bisa diantisipasi tanpa perlu dilakukan pendaratan darurat di darat seperti pesawat.

Bahkan menurut Gerry, tidak ada pesawat yang sempurna secara teknis saat akan lepas landas. Kata dia, kendala teknis biasanya akan dikerjakan oleh pihak pabrik pesawat sebelum kemudian diizinkan terbang.

“Kalau pesawat harus tunggu sempurna baru lepas landas bisa bangkrut itu seluruh maskapai, atau tiketnya mahal banget. Jadi masalah teknis sebelum take off biasa, saat pabrik bilang boleh terbang mereka terbang,” kata Gerry.

Lebih lanjut, Gerry juga mengaku sejauh ini pengawasan pemerintah juga sudah berjalan. Hal itu bisa terlihat dari dicabutnya larangan terbang seluruh maskapai penerbangan Indonesia oleh Komisi Keselamatan Penerbangan Uni Eropa, termasuk Lion Air.

Hal senada juga disampaikan pengamat penerbangan Alvin Lie. Menurut Alvin pemerintah sejauh ini sudah memiliki disiplin ketat terhadap maskapai penerbangan. Hal itu terlihat sepanjang tahun 2017 prestasi penerbangan di Indonesia sudah cukup bagus.

“Pejabat dan peraturan di pemerintahan sudah berubah. Jangan gunakan patokan masa lalu seperti Adam Air atau pesawat low cost lainnya yang pernah jatuh. Kita tunggu hasil investigasi,” kata Alvin kepada CNNIndonesia.com.

Dia mengatakan, kesimpulan yang disampaikan Menteri Perhubungan Budi Karya atau Kepala Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono yang menyebut pesawat tidak meledak di udara juga tidak salah. Alvin menilai kesimpulan sementara itu terlihat dari serpihan pesawat yang terkonsentrasi.

“Saya juga sepakat tidak ada ledakan, kalau meledak di udara tubuh manusia ada yang terapung. Serpihannya juga terkonsentrasi,” kata Alvin.

Alvin menjelaskan dilihat dari grafik kecepatan dan ketinggian pesawat sebelum hilang kontak sangat tidak wajar. Pesawat sempat terlihat menukik tajam dan kecepatan tidak stabil. Namun Alvin belum mau menyimpulkan terlalu dini.

“Bisa saja masalah teknis di balik ketidakwajaran, kecepatan naik tapi pesawat turun. Mungkin masalah turbulensi, atau nabrak benda di langit, belum bisa diambil kesimpulan,” tutur Alvin.

Selain itu Alvin juga menilai ketidakwajaran jatuhnya Lion Air JT-610 terlihat dari posisi pesawat yang tidak sempat mengapung. Jika mesin pesawat mati, pesawat sebetulnya bisa mencapai permukaan air dengan mengapung dan terbawa arus. Jika seperti ini, maka prosedur penyelamatan darurat berupa penggunaan pelampung dan keluar lewat jendela darurat dilakukan.Alvin menjelaskan dilihat dari grafik kecepatan dan ketinggian pesawat sebelum hilang kontak sangat tidak wajar. Pesawat sempat terlihat menukik tajam dan kecepatan tidak stabil. Namun Alvin belum mau menyimpulkan terlalu dini.

“Bisa saja masalah teknis di balik ketidakwajaran, kecepatan naik tapi pesawat turun. Mungkin masalah turbulensi, atau nabrak benda di langit, belum bisa diambil kesimpulan,” tutur Alvin.

Selain itu Alvin juga menilai ketidakwajaran jatuhnya Lion Air JT-610 terlihat dari posisi pesawat yang tidak sempat mengapung. Jika mesin pesawat mati, pesawat sebetulnya bisa mencapai permukaan air dengan mengapung dan terbawa arus. Jika seperti ini, maka prosedur penyelamatan darurat berupa penggunaan pelampung dan keluar lewat jendela darurat dilakukan. (*)

SUMBER : www.cnnindonesia.com






















LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here