Nasib Proyek PLTU Riau-1 yang Bikin Idrus Marham Jadi Tersangka..!

209
Idrus Marham/Ist

JEJAKJAMBI.COM – Proyek PLTU Riau-1 telah menyeret Idrus Marham hingga membuatnya harus mundur dari jabatan Menteri Sosial serta kepengurusan di Partai Golkar. 

Namanya tersandung dalam proyek pembangkit listrik yang di dalamnya terjadi praktik korupsi itu. Lantas, seperti apa nasib proyek PLTU tersebut kini?

Berdasarkan informasi yang dirangkum, Jumat (24/8/2018), dalam kasus suap di PLTU Riau-1, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) juga terseret terkait dugaan pelanggaran hukum. 

Berkaitan dengan hal tersebut, Direktur Utama PLN Sofyan Basir menyampaikan proyek tersebut dihentikan sementara.

“Begitu ada kasus hukum kita berhentikan. Itu ada dalam LoI, bahwa jika ada permasalahan hukum dihentikan sementara dan dikaji kembali,” katanya di Kantor Pusat PLN, Jakarta, 16 Juli 2018 lalu.

Sofyan menjelaskan proyek tersebut sejauh ini memang belum berjalan. Proyek tersebut baru sebatas penandatangan Letter of Intent (LoI).

“Mohon maaf proyek ini sampai sekarang belum putus, masih dari batas pelaksanaan mulut tambang,” jelasnya.

PLTU Riau-1 sendiri tak lepas dari perusahaan multinasional BlackGold Natural Resources Limited atau BlackGold.

Dikutip laman BlackGold, 16 Juli 2018, BlackGold bersama konsorsium menerima letter of intent (LoI) untuk perjanjian jual beli listrik (power purchase agreement/PPA) yang diumumkan pada awal tahun ini untuk proyek PLTU Riau-1.

Konsorsium sendiri terdiri dari BlackGold, PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB), PT PLN Batubara (PLN BB) dan China Huadian Engineering Co Ltd (CHEC).

Sofyan menjelaskan nilai dari proyek tersebut sebesar US$ 900 juta atau sekitar Rp 12,87 triliun (kurs Rp 14.300). Proyek pembangkit mulut tambang tersebut digarap lewat anak usahanya bersama konsorsium.

“Memang terlihat besar proyek PLTU, bisa sampai Rp 20 sampai Rp 50 triliun, kalau bangun tol bisa 1.000 km. Tapi kalian harus tahu bagaimana teknologi yang dipakai untuk membangun PLTU,” sebutnya.

PLTU Riau-1 sendiri memiliki kapasitas 2×300 MW. Proyek ini ditargetkan beroperasi atau Commercial Operation Date (COD) pada 2023.

Namun berdasarkan kabar terakhir, Sofyan mengaku tidak tahu sampai kapan proyek itu dihentikan. Hanya saja dia memastikan proyek itu tidak akan mangkrak dan bisa dilanjutkan kembali. (*)

SUMBER : https://finance.detik.com






LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here