Kopi Sachetan Mudah Terbakar, Berbahayakah..?

140
Ilustrasi/Ist

JEJAKJAMBI.COM,- Belakangan ini media sosial dihebohkan dengan adanya isu bahwa kopi sachetan dengan merek yang sudah dikenal luas masyarakat Indonesia memiliki kandungan bubuk mesiu sehingga bisa dibakar. Dalam sebuah unggahan dari akun Twitter@YanAnthono, terlihat jelas kopi sachetan ini langsung menyala tatkala terkena api.

Komentar dari unggahan ini pun bermacam-macam. Ada yang menganggapnya karena kandungan lemak pada kopi, namun ada pula yang menyebutnya sebagai tanda bahwa ada bubuk mesiu di dalamnya. Akun Twitter @lantip pun mencoba untuk meluruskan isu ini. Menurut akun ini, serbuk kopi yang mengandung lemak pasti akan terbakar karena mengalami laju reaksi. Selain serbuk kopi, tepung terigu juga akan mengalami efek yang sama jika terkena api.

Sementara itu, akun Facebook Rd Cahya juga penasaran dengan komposisi dari kopi sachetan ini karena adanya kabar bahwa ada kandungan mesiu di dalamnya. Setelah dicek dengan seksama, kandungan yang mudah terbakar ini ternyata bukanlah bubuk mesiu, melainkan sodium caseinate atau zat anti caking yang memiliki kandungan sulfur yang memang mudah terbakar. Mengingat serbuk kopi cenderung lembut, maka kopi dengan kandungan krim tentu akan lebih mudah terbakar.

Lantas, mengapa ada kopi jenis lain yang tidak mudah terbakar? Ada banyak sekali alasan akan hal ini; Bisa jadi hal ini disebabkan oleh bubuk kopi sudah basah, partikel bubuk kopi lebih besar, dan tidak adanya krimer.

Yang menarik adalah, banyak orang yang langsung menanggapi unggahan video membakar kopi ini sebagai sesuatu yang kurang kerjaan. Logikanya, apa tujuan dari membakar kopi jika kita bisa menikmatinya dengan cara menyeduhnya dengan air? Selain itu, bukankah sudah menjadi rahasia umum jika minum kopi bisa memberikan manfaat bagi kesehatan?

Hanya saja, tidak semua kopi ternyata baik bagi kesehatan tubuh kita. Sebagai contoh, banyak kopi sachetan yang sudah ditambahi dengan gula atau krim dalam jumlah yang tinggi sehingga jika terlalu sering dikonsumsi bisa meningkatkan risiko terkena kenaikan berat badan atau kadar gula darah. Karena alasan inilah ada baiknya kita memang sebaiknya membatasi konsumsinya. (*)

SUMBER : www.doktersehat.com

 

 






















LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here