“Kisah Usang” Yang Terbongkar dari Cabup Nalim..! Dan Ini, Bisa Buat “Nyali” Rival Politik Ciut? CE-KE-DOT

24
Cabup Nalim, dalam sebuah potret/jejakjambi.com

MERANGIN,JEJAKJAMBI,- Ada ‘kisah usang’ yang mungkin belum banyak yang tahu, hingga menjadikan sosok Calon Bupati (Cabup) Nalim, tak jarang disebut banyak pihak sebagai sosok fighter, atau petarung sejati, dalam dunia perpolitikan.

Seperti diceritakan  AS, yang tak lain salah seoarang mantan Tim Sukses (Timses) Cabup Nalim, yang kini keadaanya sudah tidak menjadi Timses lagi, lantaran sakit tua berkepanjangan yang dideritanya.

Bertemu dikediamanya dikawasan Tabir, sosok pria tua AS yang minta namanya diinisialkan saja ini, mau bercerita kisah usang Sang Cabup Nalim, asalkan nama kampung atas kejadian itu, hingga nama dirinya bisa kaburkan saja, guna menghindari hal – hal yang tak diinginkan.

Loh kok begitu amat ya? Iya, kata pria AS yang sudah cukup tua ini, lantaran salah satu kampung tranmigrasi yang punya cerita terhadap Cabup Nalim tersebut, sampai saat ini tetap akan memberikan dukungan penuh terhadap Nalim dalam Pilkada Merangin 2018.

Setelah syarat sederhana tersebut disepakati, barulah AS mau mengawali cerita sekira 10 tahun silam, atau akhir 2007, menuju 2008. Diceritakan AS, saat kali pertama Nalim mencalonkan diri sebagai Bupati Merangin, atau sekitar akhir 2007, menuju 2008, dirinya merupakan salah satu Tim Sukses (Timses) inti.

Dimana suatu saat (tanggal dan bulan sudah tak ingat,red) sekira akhir 2007 atau awal 2018, Nalim bersama Timses, pernah mendatangi salah satu Desa tranmigrasi wilayah Pamenang, Merangin.

Namun entah karena apa, diperjalanan menuju kampung tersebut, Cabup Nalim justru mendapatkan kabar, jika warga setempat menolak mentah – mentah kehadiran Cabup Nalim, meski tujuannya hanya sebatas bersosialisasi terkait pencalonan Sang Cabup Nalim saat itu.

” Saat itu, tidak begitu jelas apa alasan warga kampung setempat tidak ingin menerima Cabup Nalim dan rombongan. Dan beberapa Kilo Meter (KM) lagi kita akan sampai  ke Desa tersebut, beberapa warga setempat mencegat perjalanan Cabup Nalim dan rombongan. Dan mereka (warga yang mencegat rombongan,red) meminta Cabup Nalim dan rombongan untuk meng-urungkan rencana sosialisasinya ke kampung tersebut saat itu,” Jelas AS coba membongkar ceritanya.

Bahkan masih dari informasi dari warga yang mencegat perjalanan rombongan Cabup Nalim kembali terungkap, jika Cabup Nalim dan rombongan tetap memaksa menuju ke Desa tersebut, maka bukan tidak mungkin keributan antar warga dan timses akan terjadi.

” Padahal sebelumnya, kita Timses Nalim sudah berkoordinasi dengan Kepala Desa (Kades) setempat sebelum menuju ke Desa itu. Dan Kades setempat sudah men-giyakan dan sepakat akan menerima kita untuk bersosialisasi dikampung tersebut. Ini ada apa? kok tiba – tiba sekali warga menolak kehadiran Cabup Nalim dan rombongan,” Terang AS, menirukan ucapanya, sekitar 10 tahun silam.

Karena tak ingin terjadi sesuatu yang dinginkan, Cabup Nalim sendiri meminta kepada Timses-nya untuk segera ‘balik kanan’ dan membatalkan pertemuan dalam rangka sosialisasi dikampung yang mayoritas petani sawit tersebut.

” Mungkin saat itu, Nalim berpikir tak ingin terjadi sesuatu yang dinginkan. Makanya beliau meng-intruksikan agar semua Timses yang ikut romobongan, untuk kembali ke posko kemenangan, yang saat itu berada persis didepan hotel Suslinda, Bangko, Merangin,”Terang AS coba mengenang cerita.

Setibanya di Posko kemenangan Nalim dikawasan Suslindo Hotel, suasana petang menjelang malam itu sedikit hening tanpa kata – kata.

”  Saat itu, semua Timses yang ikut rombongan saling bertanya – tanya, apa yang terjadi dikampung tersebut sehingga warga kampung itu, menolak kehadiran Cabup Nalim, yang sebelumnya justru sudah terjadwal dengan baik,”Kata AS lagi.

Tak hanya hening, namun hujan rintik – rintik yang mengguyur Kota Bangko saat itu, lanjut AS, membuat suasana posko kemenangan Nalim  semakin dilanda kebingungan, imbas dari penolakan salah satu kampung dikawasan Pamenang tersebut, hingga tak terasa saat itu, jam sudah menunjukan sekitar pukul 21.00 WIB.

” Dan suasan hening saat itu, sedikit pecah atau sekitar pukul 21.00 WIB. Dimana tiba – tiba Cabup Nalim yang sebelumnya berada didalam rumah pemenangan, keluar dari posko kemenanganya, dengan menggunakan jaket anti hujan. Nalim pun meminta Timses menyiapkan satu motor trail. Wajah timses dibuat bingung, dan saling bertanya, akan kemana sang Cabup dimalam hujan rintik rintik seperti ini,” Kisah AS.

Setelah motor disiapkan, Nalim pun sempat mengumpulkan Timses di depan rumah pemenanganya dan berkata.” Karena kita ramai ramai ditolak, maka saya akan pergi kesana sendiri dengan menggunakan motor ini.  Biarlah, dan jangan ada yang kawal saya, karena saya akan menemui warga dan kades setempat, malam ini juga. Orang niat saya baik kok, kenapa kita diusir. Setelah berkata demikian, dengan logat khas minangnya, motor trail pun berlalu meninggalkan posko rumah kemenangan,” Kata AS, seraya mengatakan saat Nalim pergi malam itu, Sang Cabup pun tidak membawa ponsel yang biasa Ia gunakan.

Setelah ditunggu sekian lama, barulah sekira pukul 01.30 WIB atau dini hari, Nalim terlihat sudah kembali ke posko kemenangan, dengan kondisi motor trail yang kotor dan penuh lekatan tanah liat.

” Melihat Sang Cabup tiba diposko dini hari itu, barulah para timses bisa kembali tersenyum. Setelah menaggalkan motor trail yang Ia gunakan, Nalim mengatakan kepada Timse, besok kita bersama rombongan pergi ke kampung itu lagi, untuk sosialisasi dan saya sudah temui kades dan warga setempat sendiri malam ini,” tutur Nalim saat itu.

Sayang kata AS, hingga saat ini Cabup Nalim enggan bercerita lebih jauh, alasan apa yang melatar belakangi penolakan warga atas kehadiran Cabup Nalim dan rombongan dikampung itu.” Tak ada bekas disana. Bahkan sampai saat ini, kami juga masih kerap bertanya – tanya sesama Timses inti saat itu, alasan apa warga tersebut menolak kehadiran kami saaat itu. karena  Sang Cabup Nalim sampai saat ini benar benar menutup erat persoalan penolakan itu,” Ujar AS mengenang cerita itu.

Dan dari kisah usang tersebut lanjut AS, bisa menjadi ‘bingkai kecil’ jika sosok Cabup Nalim merupakan sosok yang fighter dalam sebuah pertarungan politik-nya.

“Ditolak warga saat datang bersama rombongan, bukan malah membuat dirinya menyerah, namun justru membuat dirinya semakin ber-nyali, datang sendiri menggunakan motor ke kampung halaman yang menolaknya ,”tutur AS coba menarik benang biru dari kisah usang yang diurainya.

Dan terbukti, ke-esokan harinya usai komplik itu terjadi, Cabup Nalim dan rombongan kembali mendatangi kampung tersebut, dan ‘bim-sa-la-bim’ salah satu perkampungan transmigrasi yang ada di Merangin tersebut, justru menyambut Sang Cabup Nalim bersama rombongan dengan suka cita, dan seakan tak pernah terjadi apa – apa sebelumnya.” Ini bukan hanya sebatas kisah usang, namun ini fakta yang saya alami dan saksikan sendiri kala itu,” Ucapnya lagi.

Saat dikonfrontir dengan Cabup Nalim, buah dari cerita AS ini, justru Nalim hanya membalas senyum sambil mempertanyakan kabar AS saat ini.

” Cerita itu betul ada, tapi itu tahun 2008 lalu, sudah cukup lama saya sendiri hampir lupa. Saat itu saya mendatangi kampung tranmigrasi dan ditolak warga setempat. Makanya saya datang sendiri, dengan menggunakan motor trail. Tidak perlu diingat lah, yang paling penting kampung tersebut, sampai saat ini akan tetap mendukung kita, untuk menuju Merangin lebih baik,” Ucap Nalim diriingi tawa khas-nya.  

Sementara itu, Direktur Media Center Nalim – Khafid yang dipercaya terhadap Selamet Edi Sucipto saat dimintai tanggapan soal cerita usang tersebut, justru tak ingin menanggapi.”  Itu cerita lama, saya juga baru tahu cerita itu. Yang pasti saat ini, dimana pun Nalim – Khafid bersosialisasi, masyarakat Merangin menerima pasangan ini, dengan suka cita. Dan itu patut kita syukuri, dan akan menjadi energi terbesar kita, jika pasangan ini, akan memenangkan Pilkada Merangin,” Tutupnya. (*)    

REPORTER – Chatur























LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here