Kasus Dugaan Pungli Siswa Magang SMK Negeri 4 Sarolangun Ber-omzet Ratusan Juta, Bakal Berbuntut Panjang?

89
POTRET : Potret gerbang utama SMK N 4 Sarolangun/foto jejakjambi.com

SAROLANGUN,JEJAKJAMBI,-  Bak bola diatas salju, yang semakin menggelinding semakin membesar, sepertinya tak ubahnya dengan kasus dugaan Pungutan Liar (Pungli) 268 siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 4 Sarolangun, yang tengah melaksanakan tugas Pendidikan Sistem Ganda (PSG) atau magang.

Kabar terbaru, Achmad Shodikin selaku Kabiro Lembaga Pemantau Penyelenggara Negara Republik Indonesia (LPPNRI) Cabang Sarolangun, kepada JejakJambi.com mengaku, akan segera melaporkan persoalan dugaan Pungli Rp 500 ribu terhadap 268 siswa magang ke penegak hukum.

Bahkan hari ini,  Jumat (25/8), atau sekitar pukul 09.30 WIB, Achmad Shodikin terpantau tengah mengumpulkan informasi, lewat Sapuan yang tak lain  Kepala Sekolah (Kepsek) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 4 Sarolangun.

“ Yang pasti dalam dekat, kasus dugaan pungli ini, akan saya laporkan. Entah itu ke Polres, Saber Pungli ataupun Kejari. Dan sedikit keterangan dari Kepsek SMKN 4 sudah saya dengar. Namun bukti rincian penggunaan dana Rp 500 tersebut belum ditunjukkan ke saya hingga saat ini ,” tegas Achmad Shodikin dibincangi JejakJambi.com, Jumat (25/8).

Mirisnya kata Shodikin, keputusan memilih paket A (Rp 500 ribu, red) hanya disepakati oleh para wali murid yang berjumlah tak sampai 50 persen. Karena itu sambungnya, Ia menilai keputusan tersebut cacat hukum.

“Artinya keputusan paket A, dilakukan secara sepihak atau hanya pihak sekolah saja. Bahkan meskipun wali murid menandatangani hasil keputusan, namun legalitasnya dipertanyakan. Sebab tidak ditandatangani menggunakan materai. Informasi ini saya dapat berdasarkan keterangan Kepsek,” bongkarnya.

Ia menegaskan tidak akan berhenti sebatas meminta keterangan semata. Lebih dari itu, ia akan meminta bukti-bukti, seperti rincian kegunaan dana Rp 500 ribu dan bukti lainnya guna menyingkap dugaan ketidakberesan managemen sekolah.

“ Dan saya pikir, jika memang uang tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan siswa magang, rasanya tidak akan menghabiskan dana sebanyak kurang lebih Rp 134 juta. Kenapa demikian, informasi yang saya dapat, siswa yang magang di Jambi membayar sendiri uang penginapan atau kos dan biaya kehidupan lainnya,” paparnya.

Terpisah dikonfirmasi jejakjambi.com, Kepsek SMKN 4 Sarolangun, Sapuan mengatakan, jika uang Rp 500 ribu tersebut bukanlah pungutan. Namun sumbangan dari para orang tua siswa kepada komite untuk dikelola secara tekhnis oleh pihak sekolah.

“Paket A ini sebetulnya sudah dari dulu, bahkan sebelum saya di sini juga sudah ada. Sebab para orang tua tidak mau juga anaknya dibiarkan tanpa pengawasan. Kami bisa saja panggil wali siswa dan menjelaskan bahwa kami tidak sanggup dengan keadaan seperti ini. Kalau memang bermasalah, bisa saja kami kembalikan sisa anggaran yang telah disepakati tersebut,” Katanya. (*)

REPORTER : Azhari
EDITOR      :
Chatur






















LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here