Dibalik Bisnis Kedai Kopi Yang Menggurita…! Rajin Ngopi, Belum Rajin Genjot Produksi..?

285
Foto hanya ilustrasi/Ist

JEJAKJAMBI.COM,-Tren kopi kekinian memicu peningkatan konsumsi kopi dalam negeri. Kini, Indonesia tidak hanya tercatat sebagai salah satu produsen kopi dunia, tetapi juga konsumen kopi yang tidak bisa diremehkan.

Kondisi ini menciptakan peluang bagi pelaku industri dan petani kopi. Tantangannya, produktivitas lahan perkebunan kopi perlu ditingkatkan guna mencukupi kebutuhan pasar lokal dan global.

BACA JUGA : Terangkat dari Akar, Tiga Pohon Tumbang Masih Belum Dievakuasi..!

Tahun 2018-2019 merupakan puncak konsumsi kopi dalam negeri. Pada periode ini, konsumsi kopi dalam negeri mencapai 4,8 juta kantong biji kopi. Jumlah tersebut empat kali lebih banyak dibandingkan dengan konsumsi pada 1990/1991.

Data International Coffee Organization (ICO) menunjukkan, sejak 1990 konsumsi kopi dalam negeri memang tumbuh. Rata-rata peningkatannya mencapai 5,16 persen per tahun.

Pertumbuhan yang melesat ini dipicu oleh tren kopi kekinian, yakni es kopi yang diolah dengan alat pembuat kopi modern dan dicampur susu segar dengan tambahan gula aren, sirup vanila, bubble, hingga biskuit. Kemunculan kedai kopi kekinian ini merajalela hampir di setiap daerah.

Salah satu indikasinya adalah peningkatan pencarian merek kopi-kopi kekinian di situs Google. Pencarian merek Kopi Kulo meningkat mulai Februari 2018, hanya dua bulan sejak kedai ini mulai beroperasi. Menyusul Kopi Kenangan dan Kopi Janji Jiwa yang mulai dicari masyarakat secara daring pada September dan Oktober 2018.

Ketertarikan masyarakat akan kopi kekinian membuka peluang bagi pelaku usaha untuk melebarkan sayap bisnisnya. Dalam kurun waktu kurang dari tiga tahun, outlet kopi kekinian dengan mudah dapat ditemukan hampir di setiap daerah.

Bahkan, laporan PT Toffin dan Mix Marketing&Communication mencatat, dalam tiga tahun terakhir, jumlah outlet kedai kopi meningkat hampir tiga kali lipat. Pada 2016, jumlah outlet kedai kopi sebanyak 1.083 unit. Pada 2019, jumlahnya sudah lebih dari 2.937 unit.

Kopi Kulo sampai Agustus 2019 sudah memiliki 300 kedai. Kopi Kenangan hadir dengan 175 outlet, sedangkan Fore Coffee dengan 100 kedai.

Kopi Janji Jiwa bahkan telah memiliki 700 gerai yang tersebar di 50 kota besar di Indonesia. Pencapaian ini menjadikan Janji Jiwa tercatat dalam rekor Muri untuk ”Pertumbuhan Kedai Kopi Tercepat dalam Satu Tahun”.

Konsumsi Kopi

Tingginya konsumsi kopi dalam negeri menandakan bahwa Indonesia tidak sekadar negara penghasil kopi, tetapi juga sebagai konsumen yang cukup besar.

Berdasarkan data ICO, konsumsi kopi domestik Indonesia pada periode 2018-2019 mencapai 50,97 persen dari produksinya. Jumlah tersebut tertinggi dibandingkan dengan negara penghasil kopi lainnya, seperti Brasil, Vietnam, Kolombia, dan Etiopia.

Kalangan muda dari generasi Z (10-24 tahun) dan generasi Y (25-39 tahun) menyumbang peningkatan konsumsi kopi dalam negeri. Sebagai generasi pemula kopi, mereka terbiasa menyeduh kopi dengan teknik racikan tradisional hingga modern. Tidak hanya di kafe atau kedai kopi, acara menyeduh juga dilakukan di tempat masing-masing.

Ketertarikan kalangan muda terhadap kopi juga memunculkan profesi peracik kopi atau barista. Kehadiran barista menunjukkan berubahnya pola konsumsi kopi di Indonesia dari cara tradisional ke modern. Barista memiliki keahlian untuk meracik kopi dengan berbagai alat dan menyajikannya dengan rasa serta tampilan menarik.

Tidak hanya modernisasi alat dan pengolahan, konsumen kopi dalam negeri kini juga mencari kopi-kopi spesial dari daerah penghasil kopi di seluruh Indonesia. Kopi spesial (specialty coffee) yang dicari memiliki kualitas tinggi. Konsumen bahkan tak tanggung-tanggung mencari kopi spesial tersebut langsung dari petani.

Perkembangan tersebut menandakan bahwa Indonesia telah melalui gelombang ketiga perkembangan konsumsi kopi, yang ditandai dengan semakin banyaknya konsumen kopi yang menjadi penikmat kopi. Dalam literatur pemasaran, para penikmat kopi ini disebut connoisseurs.

Para penikmat kopi ini bukan sembarangan konsumen. Mereka memiliki pengetahuan, selera khusus, hingga keahlian dalam memilih kopi-kopi spesial.

Gelombang Transformasi

Perkembangan konsumsi kopi di Indonesia tidak lepas dari gelombang transformasi kopi dunia. Quintao dan Brito dalam jurnalnya berjudul Connoisseurship Consumption And Market Evolution: An Institutional Theory Perspective On The Growth Of Specialty Coffee Consumption In The USA menjelaskan, kopi menjadi komoditas pada awal mula kopi mendunia.

Pada gelombang pertama, perusahaan-perusahaan besar produsen kopi mendorong peningkatan konsumsi kopi secara eksponensial. Kopi yang dipasarkan memiliki kualitas rendah dan harga murah. Produk kopi ini didominasi oleh kopi hasil industri seperti Folgers Coffee milik Procter & Gamble (sampai 2008), Maxwell House milik Kraft Food, dan berbagai jenis Nestle Coffee.

Di Indonesia, menurut Laporan Toffin dan Mix Marketing&Communication, periode ini ditandai dengan munculnya kopi siap minum (ready to drink) yang dijual di kedai kopi tradisional atau warung kopi. Hanya sedikit kedai kopi modern yang menyediakan menu kopi yang sama.

Selanjutnya, gelombang kedua ditandai dengan munculnya specialty coffee. Ini berawal dari pengaruh pasar kopi Italia ke pasar Amerika serta penggunaan mesin espresso.

Dengan adanya mesin ini, konsumen dapat menikmati kopi dengan rasa yang berbeda karena hadirnya teknik pengolahan yang baru. Model bisnis kopi seperti ini didominasi kedai kopi Starbucks yang mendunia.

Indonesia pun kebanjiran kedai-kedai kopi global, seperti Starbucks dan Coffee Bean. Konsumsi kopi bukan lagi sekadar kebutuhan fungsional, melainkan juga kebutuhan emosional. Kopi dianggap penting untuk menaikkan gengsi atau status seseorang.

Namun, memasuki gelombang ketiga, bisnis kedai kopi global mulai bersaing dengan kedai kopi lokal yang menyajikan kopi khas dari beragam daerah atau disebut single origin coffee. Kopi diracik dengan khas oleh peracik kopi atau barista. Pada periode inilah, muncul slogan a better cup of coffee.

Dalam beberapa tahun terakhir, berkembang topik tentang gelombang keempat kopi. Laporan Toffin dan Mix Marketing&Communication menyebutkan, Indonesia telah memasuki periode ini sejak 2016. Hal ini ditandai dengan pasar yang bertambah luas dan banyaknya kedai kopi coffee to go yang menjual kopi siap minum dengan harga murah.

Gelombang keempat juga ditandai dengan perpaduan kopi berbagai daerah yang dinikmati dengan cara khas daerah tersebut. Konsumen dapat mendalami informasi sejarah dan budaya lewat konsumsi kopi tersebut. Contohnya, kafe Cocoa Cinnamon di Durham, North Carolina, yang menyediakan Kopi The Strait of Hormuz pour-over yang mencampurkan kopi asal Afrika dan Asia dengan lada hitam Malabar.

Perdagangan Kopi

Hal yang patut diapresiasi dari peningkatan konsumsi kopi dalam negeri adalah meningkatnya serapan kopi dalam negeri. Tingginya permintaan dalam negeri menyebabkan harga jual kopi di dalam negeri justru lebih tinggi daripada harga jual di pasar internasional. Kondisi ini mendorong penjual lebih memilih memasarkan biji kopi kepada konsumen dalam negeri.

Karena lebih banyak diserap dalam negeri, volume ekspor kopi Indonesia turun pada 2019. AEKI menjelaskan, penurunan ekspor kopi ini berbeda dengan penurunan ekspor yang terjadi tahun 2018. Pada 2018, ekspor kopi menurun karena kondisi perkebunan kopi kurang baik. Akibatnya, impor kopi meningkat.

Pergeseran ini menjadi peluang bagus bagi petani yang tidak perlu lagi menggantungkan penjualan pada pasar internasional. Saat terjadi pelemahan ekonomi di negara tujuan ekspor atau jatuhnya harga kopi di pasar internasional, masih ada pasar dalam negeri dengan permintaan yang tinggi.

Untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan internasional, diperlukan peningkatan produksi. Demi tujuan tersebut, dibutuhkan kerja sama antara petani, pemerintah, dan komunitas.

Masalahnya, produktivitas kopi nasional di hulu selama 10 tahun terakhir cenderung stagnan. Data Kementerian Pertanian mencatat, produktivitas lahan kopi selama 2010-2019 hanya meningkat 0,72 persen, yakni dari 779,36 kilogram menjadi 785 kilogram per hektar. Karena itu, Indonesia masih mengimpor kopi meskipun hampir setiap wilayahnya memiliki perkebunan kopi.

Stagnansi paling terlihat pada produktivitas pertanian rakyat yang hanya sebesar 776,46 kilogram per hektar pada 2019. Sedikit lebih tinggi pada perkebunan negara dan swasta, masing-masing mencapai 1.128,73 kilogram dan 871,12 kilogram per hektar.

Dengan kondisi demikian, upaya peningkatan produktivitas perlu difokuskan pada perkebunan kopi rakyat agar petani kopi juga dapat menikmati dampak langsung puncak konsumsi dalam negeri ini.

Salah satu caranya adalah dengan membentuk koperasi petani kopi. Koperasi dapat mengonsolidasikan lahan perkebunan petani yang semula di bawah 1-2 hektar menjadi 100 hektar per individu. (*)

SUMBER : interaktif.kompas.id

























LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here