Daun Sungkai (Peronema Canescens, JACK) (Manfaat dan Kegunaan, Tinjauan Sisi Kesehatan)

290
dr. Berman Saragih, M.Kes. (MMR)/Ist

PENULIS : Berman Saragih, M.Kes. (MMR)

TANAMAN Sungkai (Peronema canescens, JACK) merupakan tanaman dari suku Verbenaceae, adalah tumbuhan asli Indonesia yang banyak tumbuh di Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Sumatera Barat dan seluruh Kalimantan. Dapat dijumpai di hutan, kebun maupun halaman rumah. Biasanya ditanam sebagai pembatas rumah atau berfungsi sebagai pagar hidup pada bagian belakang rumah (Imelda, 2007)

Menurut Yani (2015), pada beberapa suku di Indonesia, misalnya Suku Dayak di Kalimantan sampai saat ini masih tetap mempertahankan tradisi dengan memanfaatkan daun Sungkai sebagai obat pilek, demam, dan penyakit kecacingan.

Juga dipakai sebagai campuran air mandi bagi ibu bersalin, juga sebagai obat berkumur pencegah sariawan. Pada masyarakat di Sumatera Selatan dan Lampung daun Sungkai dimanfaatkan sebagai obat malaria dan demam.

Menurut Yani (2015), dalam pengobatan Suku Serawai di Bengkulu daun Sungkai ditumbuk dan ditampal untuk sakit memar. Sementara dalam pengobatan Suku Lembak di Bengkulu seduhan daun Sungkai digunakan untuk penurun panas, Malaria dan menjaga stamina tubuh.

Tanaman Sungkai terutama di bagian daunnya mengandung metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid dan tannin (Hadi, 2011).

Belum banyak penelitian yang dilakukan terhadap daun Sungkai, karena penelitian daun ini sebagai bahan obat pada masyarakat masih kurang. Perlu dilakukan pengujian dasar untuk menentukan bioaktifitas dari tumbuhan ini. Bioaktifitas adalah kemampuan suatu senyawa aktif yang terkandung dalam tumbuhan yang dapat memberikan pengaruh terhadap organisme tertentu.

Pada beberapa penelitian menunjukkan ekstrak daun Sungkai berpotensi untuk menghambat pertumbuhan parasit, seperti penelitian Suwandi (2006), yang berkesimpulan ekstrak etanol daun Sungkai memiliki aktifitas penghambat pertumbuhan parasit Plasmodium berghei pada mencit jantan. Ekstrak daun Sungkai juga terbukti mempunyai sifat antiparasit pada kultur in vitro Babesia gibsoni (Subeki, 2004 dan Murningsih, 2005).

Menurut Ningsih dan Subehan (2013), hasil isolasi ekstrak daun Sungkai diperoleh suatu senyawa, yaitu isolat B1. Berdasarkan data isolat B1 termasuk golongan senyawa terpenoid. Menurut Holman (1996) dalam Gresinta (2012), senyawa ini mempunyai bioaktivitas sebagai imunostimulan agent.

Imunitas adalah resistensi terhadap penyakit, terutama penyakit infeksi. Sistem imun diperlukan tubuh untuk mempertahankan diri dari berbagai serangan penyakit. Sistem imunitas tubuh ditentukan oleh banyaknya sel darah putih atau leukosit dalam darah.

Sel darah putih atau leukosit adalah komponen sel darah yang berfungsi untuk mempertahankan diri dari serangan penyakit, baik yang disebabkan bakteri, virus, maupun parasit yang masuk dalam tubuh.

Menurut Ningsih dan Ibrahim (2013), aktivitas antimikroba ekstrak fraksi n-heksan daun Sungkai dengan metode KLT-bioautografi menunjukkan adanya daya bunuh terhadap 3 (tiga) jenis bakteri uji, yaitu Bacillus subtilis, Streptococcus mutans, dan Staphylococcus aureus. Sementara Ningsih, dkk (2014) menyimpulkan hasil ekstrak n-heksan daun Sungkai adalah senyawa isolat B1.

Aktivitas antimikroba isolat aktif B1 efektif terhadap bakteri gram positif dan bakteri gram negatif. Yani, dkk (2015) daalam penelitiannya menyimpulkan ekstrak daun Sungkai berpotensi meningkatkan kekebalan (imunitas).

DAFTAR PUSTAKA

  1. Ahmad, I., Ibrahim, A. 2015. Bioaktivitas Ekstrak Metanol dan Fraksi n-Heksan Daun Sungkai (Peronema canescens, JACK) Terhadap Larva Udang (Artemia salina leach), Jurnal Sains dan Kesehatan, Volume 1 Nomor
  2. Imelda, M., etal, 2007. Keseragaman Genetik Bibit Sungkai (Peronema canescens, JACK) Hasil Kultur Jaringan, Biodiversitas, Volume 8 Nomor
  3. Ningsih, A., Ibrahim, A. (2013). Aktivitas Antimikroba Ekstrak Fraksi n-Heksan Daun Sungkai (Peronema canescens, JACK), Journal Pharmaceutical and Chemical, Volume 2 Nomor
  4. Ningsih, , Subehan, Djide, M.N. (2015). Potensi Antimikroba dan Analisis Spektroskopi Isolat Aktif Ekstrak n-Heksan Daun Sungkai (Peronema canescens, JACK) Terhadap Beberapa Mikroba Uji. Jurnal Penelitian, Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin, Makassar.
  5. Yani, A.P., etal (2015). Uji Potensi Daun Muda Sungkai (Peronema canescens, JACK) Untuk Kesehatan (Imunitas) Pada Mencit (Mus muculus), Seminar Nasional XI Pendidikan Biologi FKIP UNS, Solo

Cara membuat rebusan daun Sungkai:

  1. Ambil daun Sungkai sebanyak 5 sampai 7 helai. Daun yang diambil jangan terlalu tua dan jangan pula yang terlalu muda
  2. Cuci dengan bersih daun sungkai
  3. Masukkan daun Sungkai ke wadah rebusan yang telah berisi air bersih sebanyak 500 gram
  4. Tutup wadah rebusan, kemudian lakukan pengerebusan sampai air rebusan tinggal sekitar 200 gram
  5. Setelah selesai, air hasil rebusan didinginkan dan sudah bisa diminum
  6. Bisa diminum dicampur dengan madu secukupnya. (*)















LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here